فکر بنیانبانک مقالات روان‌شناسی

Supriyadi Supriyadi

۱ مقاله

همه‌ی آثار Supriyadi Supriyadi در فکر بنیان مشاهده ←

هم‌نویسندگان: Arif MulyantoCindy Rozza BellaRetno SulistiyowatiUli Mas’uliyah IndarwatiShafa Okta Salsabila

Hubungan Durasi Tidur Terhadap Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase Pada Sopir Bus

Shafa Okta Salsabila; Uli Mas’uliyah Indarwati; Retno Sulistiyowati; Cindy Rozza Bella; Supriyadi Supriyadi; Arif Mulyanto MAHESA Malahayati Health Student Journal, 2026, Vol. 6, Issue 11, pp. 164-177 https://doi.org/10.33024/mahesa.v6i11.25298

چکیده

ABSTRACT Insufficient sleep duration among bus drivers has the potential to cause prolonged fatigue, oxidative stress, and elevated liver enzymes such as SGOT and SGPT. Research examining the correlation between sleep duration and SGOT and SGPT levels among bus drivers in Indonesia remains limited. This study aimed to analyze the correlation between sleep duration and SGOT and SGPT levels in bus drivers at Bulupitu Bus Station, Purwokerto. The study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach involving 20 bus drivers selected through total sampling. Sleep duration was measured using a questionnaire, while SGOT and SGPT levels were analyzed using the IFCC kinetic method. Correlations between variables were tested using Pearsons correlation with a significance level of 0.05. The average sleep duration of respondents was 6.35-1.59 hours; the mean SGOT level was 29.625-24.94 U/L, and the mean SGPT level was 45,150-33.37 U/L. No significant correlation was found between sleep durition and SGOT levels (r = 0.203: p = 0.391) or SGPT levels (r 0.441, p0.051). Sleep duration did not show a significant correlation with SGOT and SGPT levels in bus drivers. Lifestyle factors and other health conditions may contribute more substantially. Keywords: Sleep Duration, SGOT, SGPT, Bus Drivers. ABSTRAK Durasi tidur yang kurang pada sopir bus berpotensi menimbulkan kelelahan berkepanjangan, stres oksidatif, serta peningkatan enzim hati seperti SGOT dan SGPT. Studi terkait hubungan antara durasi tidur dengan kadar SGOT dan SGPT pada sopir bus di Indonesia masih terbatas. Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis hubungan antara durasi tidur dengan kadar SGOT dan SGPT pada sopir bus di Terminal Bulupitu Purwokerto. Desain studi ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 20 sopir bus yang diambil melalui teknik total sampling. Pengukuran durasi tidur dilakukan menggunakan kuesioner, sedangkan kadar SGOT dan SGPT dianalisis dengan metode kinetik IFCC. Hubungan antar variabel dianalisis dengan uji korelasi Pearson pada tingkat signifikansi 0,05. Rata-rata durasi tidur responden adalah 6,35 ± 1,59 jam; rerata kadar SGOT sebesar 29,625 ± 24,94 U/L dan SGPT sebesar 45,150 ± 33,37 U/L. Tidak terdapat hubungan signifikan antara durasi tidur dengan kadar SGOT (r = 0,203; p = 0,391) maupun SGPT (r = –0,441; p = 0,051). Durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kadar SGOT dan SGPT pada sopir bus. Faktor gaya hidup dan kondisi kesehatan lain kemungkinan berperan lebih besar. Kata Kunci: Durasi Tidur, SGOT, SGPT, Sopir Bus.

متن کامل دسترسی آزاد