فکر بنیانبانک مقالات روان‌شناسی

MAHESA Malahayati Health Student Journal

2026, Volume 6, Issue 11

مقاله‌ها

Hubungan Antara Kejadian Neuropati Diabetik dengan Kualitas Tidur Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RS Siti Khodijah Sepanjang

Aurellya Shafa Helsana; Nurma Yuliyanasari; Laily Irfana; Audy Meutia Ariana; Detti Nur Irawati MAHESA Malahayati Health Student Journal, 2026, Vol. 6, Issue 11, pp. 81-98 https://doi.org/10.33024/mahesa.v6i11.25096

چکیده

ABSTRACT Type 2 diabetes mellitus is a chronic metabolic disease with a rapidly increasing prevalence worldwide and is frequently accompanied by microvascular complications, particularly diabetic neuropathy. Diabetic neuropathy often presents with sensory symptoms such as pain, paresthesia, and numbness, which tend to worsen at night and may interfere with sleep quality. Disturbed sleep in patients with type 2 diabetes mellitus can adversely affect daily functioning, glycemic control, and overall quality of life. However, previous studies examining the relationship between diabetic neuropathy and sleep quality have reported inconsistent findings. This study aims to determine the relationship between the occurrence of diabetic neuropathy and sleep quality among patients with type 2 diabetes mellitus at RS Siti Khodijah Sepanjang. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. Data were collected using primary data from questionnaires and secondary data from medical records of patients with type 2 diabetes mellitus. Diabetic neuropathy was assessed based on clinical evaluation, while sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The findings demonstrate an association between the occurrence of diabetic neuropathy and impaired sleep quality in patients with type 2 diabetes mellitus. Patients experiencing diabetic neuropathy tended to have poorer sleep quality, characterized by prolonged sleep latency, reduced sleep efficiency, increased sleep fragmentation, and shorter sleep duration. Diabetic neuropathy is associated with decreased sleep quality in patients with type 2 diabetes mellitus. These findings highlight the importance of considering sleep quality as part of comprehensive management in patients with diabetic neuropathy to improve overall health outcomes. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Diabetic Neuropathy, Sleep Quality, PSQI. ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan sering disertai komplikasi mikrovaskular, salah satunya neuropati diabetik. Neuropati diabetik ditandai dengan gejala sensorik seperti nyeri, kesemutan, kebas, dan rasa terbakar yang umumnya memberat pada malam hari sehingga berpotensi mengganggu kualitas tidur. Gangguan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat berdampak negatif terhadap aktivitas harian, kontrol glikemik, dan kualitas hidup. Namun, hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan neuropati diabetik dengan kualitas tidur masih menunjukkan ketidakkonsistenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian neuropati diabetik dengan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RS Siti Khodijah Sepanjang. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari data primer berupa kuesioner serta data sekunder dari rekam medis pasien diabetes melitus tipe 2. Kejadian neuropati diabetik dinilai melalui evaluasi klinis, sedangkan kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kejadian neuropati diabetik dengan penurunan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2. Pasien dengan neuropati diabetik cenderung mengalami kualitas tidur yang lebih buruk, ditandai dengan latensi tidur yang memanjang, efisiensi tidur yang menurun, fragmentasi tidur yang meningkat, serta durasi tidur yang lebih pendek. Terdapat hubungan antara kejadian neuropati diabetik dengan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2. Oleh karena itu, aspek kualitas tidur perlu dipertimbangkan dalam manajemen komprehensif pasien neuropati diabetik guna meningkatkan luaran kesehatan secara keseluruhan. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Neuropati Diabetik, Kualitas Tidur, PSQI.

متن کامل دسترسی آزاد

Hubungan Durasi Tidur Terhadap Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase Pada Sopir Bus

Shafa Okta Salsabila; Uli Mas’uliyah Indarwati; Retno Sulistiyowati; Cindy Rozza Bella; Supriyadi Supriyadi; Arif Mulyanto MAHESA Malahayati Health Student Journal, 2026, Vol. 6, Issue 11, pp. 164-177 https://doi.org/10.33024/mahesa.v6i11.25298

چکیده

ABSTRACT Insufficient sleep duration among bus drivers has the potential to cause prolonged fatigue, oxidative stress, and elevated liver enzymes such as SGOT and SGPT. Research examining the correlation between sleep duration and SGOT and SGPT levels among bus drivers in Indonesia remains limited. This study aimed to analyze the correlation between sleep duration and SGOT and SGPT levels in bus drivers at Bulupitu Bus Station, Purwokerto. The study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach involving 20 bus drivers selected through total sampling. Sleep duration was measured using a questionnaire, while SGOT and SGPT levels were analyzed using the IFCC kinetic method. Correlations between variables were tested using Pearsons correlation with a significance level of 0.05. The average sleep duration of respondents was 6.35-1.59 hours; the mean SGOT level was 29.625-24.94 U/L, and the mean SGPT level was 45,150-33.37 U/L. No significant correlation was found between sleep durition and SGOT levels (r = 0.203: p = 0.391) or SGPT levels (r 0.441, p0.051). Sleep duration did not show a significant correlation with SGOT and SGPT levels in bus drivers. Lifestyle factors and other health conditions may contribute more substantially. Keywords: Sleep Duration, SGOT, SGPT, Bus Drivers. ABSTRAK Durasi tidur yang kurang pada sopir bus berpotensi menimbulkan kelelahan berkepanjangan, stres oksidatif, serta peningkatan enzim hati seperti SGOT dan SGPT. Studi terkait hubungan antara durasi tidur dengan kadar SGOT dan SGPT pada sopir bus di Indonesia masih terbatas. Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis hubungan antara durasi tidur dengan kadar SGOT dan SGPT pada sopir bus di Terminal Bulupitu Purwokerto. Desain studi ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 20 sopir bus yang diambil melalui teknik total sampling. Pengukuran durasi tidur dilakukan menggunakan kuesioner, sedangkan kadar SGOT dan SGPT dianalisis dengan metode kinetik IFCC. Hubungan antar variabel dianalisis dengan uji korelasi Pearson pada tingkat signifikansi 0,05. Rata-rata durasi tidur responden adalah 6,35 ± 1,59 jam; rerata kadar SGOT sebesar 29,625 ± 24,94 U/L dan SGPT sebesar 45,150 ± 33,37 U/L. Tidak terdapat hubungan signifikan antara durasi tidur dengan kadar SGOT (r = 0,203; p = 0,391) maupun SGPT (r = –0,441; p = 0,051). Durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kadar SGOT dan SGPT pada sopir bus. Faktor gaya hidup dan kondisi kesehatan lain kemungkinan berperan lebih besar. Kata Kunci: Durasi Tidur, SGOT, SGPT, Sopir Bus.

متن کامل دسترسی آزاد

Analisis Risiko Faktor Ergonomi Kerja terhadap Timbulnya Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada Pekerja Industri Pembuatan Briket Arang

Sitty Hana Anissa Fukui; Suherman Jaksa; Munaya Fauziah MAHESA Malahayati Health Student Journal, 2026, Vol. 6, Issue 11, pp. 470-484 https://doi.org/10.33024/mahesa.v6i11.25402

چکیده

ABSTRACT Low Back Pain (LBP) is a disease caused by non-ergonomic working conditions during manual handling activities. LBP is a leading cause of activity limitations, disability, inability and absenteeism from work. The aim of this study was to analyze ergonomic risk factors for LBP complaints and their relationship to the two in charcoal briquette manufacturing industry workers at PT. Arkelindo Bara Sejahtera. This study was quantitative with a cross-sectional approach. The study was conducted from June to November 2025. The population and sample were 183 and 151 workers, respectively. Research data was obtained from questionnaires, interviews, diagnoses, and direct on-site observations. Data analysis was conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed that as many as 64.2% of participants experienced complaints of severe LBP. It was also found that awkward postures, static work positions, repetitive movements and excessive force use were at risk of 62.9%, 70.2%, 73.5% and 57.6%, respectively. There is a relationship between awkward postures (p = 0.023, OR = 2.843), static work positions (p =0.004, OR = 3.875), repetitive movements (p = 0.000, OR = 6.013) and excessive force use (p = 0.003, OR = 4.178) and NBP complaints. The dominant ergonomic risk factor for LBP complaints is repetitive movements with an OR value of 6.013. This study indicates that repeated exposure to sitting or standing for more than half the working day, combined with awkward postures such as bending and twisting, were the dominant contributing factors to LBP. It is hoped that companies can implement ergonomic work positions to ensure worker comfort. Keywords: Charcoal Briquette Industry, Ergonomic Risks, Back Pain, Occupational Health. ABSTRAK Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan penyakit akibat kondisi kerja yang tidak ergonomis selama aktivitas manual handling. NPB merupakan salah satu penyebab utama keterbatasan aktivitas, kecacatan, ketidakmampuan dan ketidakhadiran dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko ergonomi terhadap keluhan NPB dan hubungan keduanya pada pekerja industri pembuatan briket arang di PT. Arkelindo Bara Sejahtera.Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan bulan Juni hingga November 2025. Populasi dan sampel berturut-turut adalah 183 dan 151 pekerja. Data penelitian diperoleh dari kuesioner, wawancara, diagnosa dan pengamatan langsung. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 64,2% responden mengalami keluhan NPB berat. Itu ditemukan juga bahwa postur tubuh janggal, posisi kerja statis, gerakan berulang, dan penggunaan tenaga berlebihan masing-masing berisiko sebesar 62,9%, 70,2%, 73,5%, dan 57,6%. Terdapat hubungan antara postur tubuh yang tidak nyaman (p = 0,023, OR = 2,843), posisi kerja statis (p = 0,004, OR = 3,875), gerakan berulang (p = 0,000, OR = 6,013), dan penggunaan tenaga berlebihan (p = 0,003, OR = 4,178) dengan keluhan NPB. Faktor risiko ergonomi dominan terhadap keluhan NPB adalah pergerakan berulang dengan nilai OR 6,013. Penelitian ini menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap posisi duduk atau berdiri selama lebih dari setengah hari kerja, dikombinasikan dengan postur tubuh janggal seperti membungkuk dan memutar badan, merupakan faktor utama penyebab NPB. Itu diharapkan bahwa perusahaan dapat menerapkan posisi kerja ergonomis agar pekerja nyaman saat bekerja. Kata Kunci: Industri Briket Arang, Risiko Ergonomi, Nyeri Punggung, Kesehatan Kerja.

متن کامل دسترسی آزاد