فکر بنیانبانک مقالات روان‌شناسی

Syaripudin Basyar

۲ مقاله

همه‌ی آثار Syaripudin Basyar در فکر بنیان مشاهده ←

هم‌نویسندگان: Ahmad Bukhari MuslimDewy SartikaZulhannan ZulhannanAlthaf Javid H. Aziz

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN FI’IL BAHASA ARAB DAN FAKTOR PENYEBABNYA PADA SISWA SMP

Dewy Sartika; Syaripudin Basyar; Ahmad Bukhari Muslim EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4, pp. 1790-1800 https://doi.org/10.51878/educator.v6i4.16536

چکیده

ABSTRACT The structural complexity of Arabic verbs (fi'il) frequently presents a distinct challenge for Indonesian middle school learners, primarily due to the absence of inflectional markers for person, tense, and case in their native language. This article offers an in-depth review to unpack the typology of such verbal construction deviations, trace their underlying triggers, and formulate pedagogical remediation directions for the classroom. Employing a qualitative literature review approach, the analytical procedure adapts an error analysis framework supported by theoretical corpora and contemporary research documents. Conceptual findings successfully map eight primary categories of grammatical anomalies—ranging from tense selection, conjugation, agreement, to i'rāb morphosyntax—triggered by accumulated first-language interference, rule overgeneralization, incomplete rule application, and learners' psychological pressures. The final synthesis asserts that instructional remediation should not rely solely on mechanical correction, but rather necessitates the design of category-based diagnostic assessments and feedback strategies that foster autonomous learner awareness. ABSTRAK Kompleksitas struktural fi'il dalam tata bahasa Arab sering kali menghadirkan tantangan tersendiri bagi pembelajar tingkat menengah penutur bahasa Indonesia, terutama karena ketiadaan infleksi persona, waktu, dan kasus pada bahasa ibu mereka. Artikel ini menawarkan tinjauan mendalam guna membedah tipologi penyimpangan konstruksi verba tersebut, menelusuri akar pemicunya, serta merumuskan arah pembenahan pedagogis di kelas. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur, alur penelaahan mengadaptasi kerangka kerja analisis kesalahan yang didukung oleh penelusuran korpus teoretis serta dokumen riset mutakhir. Temuan konseptual berhasil memetakan delapan kategori utama anomali gramatikal mulai dari pilihan waktu, konjugasi, kesesuaian, hingga tata bentuk i'rāb yang dipicu oleh akumulasi interferensi bahasa pertama, generalisasi aturan, kelemahan penerapan kaidah, hingga tekanan psikologis pembelajar. Sintesis akhir menegaskan bahwa perbaikan pengajaran tidak boleh bertumpu pada koreksi mekanis semata, melainkan menuntut perancangan asesmen diagnostik berbasis kategori serta strategi umpan balik yang membangun kesadaran mandiri.

متن کامل دسترسی آزاد

ANALISIS KOMPARATIF PEMBELAJARAN MAHĀRAH TAḤADDUTS SARJANA PBA UIN RADEN INTAN DAN SASTRA ARAB YARMOUK UNIVERSITY

Althaf Javid H. Aziz; Syaripudin Basyar; Zulhannan Zulhannan EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4 https://doi.org/10.51878/educator.v6i4.16114

چکیده

ABSTRACT Differences in Arabic language-use environments offer a perspective for understanding why speaking instruction does not always provide learners with comparable language experiences. This study examines mahārah taḥadduts through a comparison of the Arabic Language Education Program at UIN Raden Intan Lampung, Indonesia, and the Arabic Literature Program at Yarmouk University, Jordan. A qualitative approach was employed using a comparative case study design. Data were collected through observations, semi-structured interviews with lecturers, program heads, students, and alumni, as well as document analysis. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, supplemented by within-case and cross-case analyses, while triangulation was employed to establish data trustworthiness. Both programs demonstrated relatively similar instructional patterns involving topic selection, preparation, presentations, dialogue, and question-and-answer sessions. The most notable distinction concerned their language-use environments. At UIN Raden Intan Lampung, speaking practice was largely confined to formally structured learning settings (by design), whereas at Yarmouk University, Arabic was also used in academic interactions and everyday communication (given). These differences were associated with variations in practice opportunities, forms of oral production, and affective-linguistic barriers, without treating the language environment as the sole determining factor. These findings inform the proposed Tiered Oral Production Model, which distinguishes scheduled production (Layer 1) from contextual production (Layer 2). Developing speaking proficiency therefore requires broader opportunities to use Arabic beyond the classroom, alongside further testing of the model across diverse educational contexts. ABSTRAK Perbedaan lingkungan penggunaan bahasa Arab memberikan perspektif untuk memahami mengapa pembelajaran keterampilan berbicara tidak selalu menghasilkan pengalaman berbahasa yang serupa. Penelitian ini menelaah pembelajaran mahārah taḥadduts melalui perbandingan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Raden Intan Lampung dan Program Studi Sastra Arab Yarmouk University, Yordania. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui desain studi kasus komparatif. Observasi, wawancara semi-terstruktur dengan dosen, ketua program studi, mahasiswa, dan alumni, serta dokumentasi digunakan untuk memperoleh data. Analisis mengikuti model Miles dan Huberman, kemudian diperdalam melalui penelaahan dalam-kasus dan lintas-kasus; triangulasi digunakan untuk memeriksa keabsahan data. Kedua program studi memperlihatkan pola instruksional yang relatif serupa, meliputi penentuan tema, persiapan, presentasi, dialog, dan tanya jawab. Pembeda yang menonjol terdapat pada ekologi penggunaan bahasa. Di UIN Raden Intan Lampung, praktik berbicara lebih banyak terikat pada ruang pembelajaran yang dirancang secara formal (by design), sedangkan di Yarmouk University bahasa Arab juga hadir dalam interaksi akademik dan keseharian (given). Perbedaan ini berkaitan dengan variasi kesempatan praktik, bentuk produksi lisan, dan hambatan afektif-linguistik, tanpa menempatkan lingkungan sebagai faktor tunggal. Temuan tersebut melandasi usulan Model Produksi Lisan Bertingkat, yang membedakan produksi terjadwal (Lapis 1) dan produksi kontekstual (Lapis 2). Pengembangan keterampilan berbicara karena itu perlu memperluas kesempatan penggunaan bahasa Arab di luar kelas sekaligus menguji model tersebut pada konteks pendidikan yang beragam.

متن کامل دسترسی آزاد