ANALISIS KOMPARATIF PEMBELAJARAN MAHĀRAH TAḤADDUTS SARJANA PBA UIN RADEN INTAN DAN SASTRA ARAB YARMOUK UNIVERSITY
چکیده
ABSTRACT Differences in Arabic language-use environments offer a perspective for understanding why speaking instruction does not always provide learners with comparable language experiences. This study examines mahārah taḥadduts through a comparison of the Arabic Language Education Program at UIN Raden Intan Lampung, Indonesia, and the Arabic Literature Program at Yarmouk University, Jordan. A qualitative approach was employed using a comparative case study design. Data were collected through observations, semi-structured interviews with lecturers, program heads, students, and alumni, as well as document analysis. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, supplemented by within-case and cross-case analyses, while triangulation was employed to establish data trustworthiness. Both programs demonstrated relatively similar instructional patterns involving topic selection, preparation, presentations, dialogue, and question-and-answer sessions. The most notable distinction concerned their language-use environments. At UIN Raden Intan Lampung, speaking practice was largely confined to formally structured learning settings (by design), whereas at Yarmouk University, Arabic was also used in academic interactions and everyday communication (given). These differences were associated with variations in practice opportunities, forms of oral production, and affective-linguistic barriers, without treating the language environment as the sole determining factor. These findings inform the proposed Tiered Oral Production Model, which distinguishes scheduled production (Layer 1) from contextual production (Layer 2). Developing speaking proficiency therefore requires broader opportunities to use Arabic beyond the classroom, alongside further testing of the model across diverse educational contexts. ABSTRAK Perbedaan lingkungan penggunaan bahasa Arab memberikan perspektif untuk memahami mengapa pembelajaran keterampilan berbicara tidak selalu menghasilkan pengalaman berbahasa yang serupa. Penelitian ini menelaah pembelajaran mahārah taḥadduts melalui perbandingan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Raden Intan Lampung dan Program Studi Sastra Arab Yarmouk University, Yordania. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui desain studi kasus komparatif. Observasi, wawancara semi-terstruktur dengan dosen, ketua program studi, mahasiswa, dan alumni, serta dokumentasi digunakan untuk memperoleh data. Analisis mengikuti model Miles dan Huberman, kemudian diperdalam melalui penelaahan dalam-kasus dan lintas-kasus; triangulasi digunakan untuk memeriksa keabsahan data. Kedua program studi memperlihatkan pola instruksional yang relatif serupa, meliputi penentuan tema, persiapan, presentasi, dialog, dan tanya jawab. Pembeda yang menonjol terdapat pada ekologi penggunaan bahasa. Di UIN Raden Intan Lampung, praktik berbicara lebih banyak terikat pada ruang pembelajaran yang dirancang secara formal (by design), sedangkan di Yarmouk University bahasa Arab juga hadir dalam interaksi akademik dan keseharian (given). Perbedaan ini berkaitan dengan variasi kesempatan praktik, bentuk produksi lisan, dan hambatan afektif-linguistik, tanpa menempatkan lingkungan sebagai faktor tunggal. Temuan tersebut melandasi usulan Model Produksi Lisan Bertingkat, yang membedakan produksi terjadwal (Lapis 1) dan produksi kontekstual (Lapis 2). Pengembangan keterampilan berbicara karena itu perlu memperluas kesempatan penggunaan bahasa Arab di luar kelas sekaligus menguji model tersebut pada konteks pendidikan yang beragam.