فکر بنیانبانک مقالات روان‌شناسی

TEACHING Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

2026, Volume 6, Issue 4

مقاله‌ها

PENERAPAN FLIPPED CLASSROOM BERBASIS VIDEO ANIMASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATERI PECAHAN KELAS III SD NEGERI 077279 SI’ŐFABANUA

Berkat Damai Gea; Otilina Gulo; Yaredi Waruwu; Riana Riana TEACHING Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4, pp. 3649-3660 https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.15036

چکیده

Conceptual understanding of fractions among third-grade elementary school students remains a challenge because the topic is abstract and teacher-centered instruction provides limited opportunities for students to study materials independently and actively. The initial condition in Grade III of SD Negeri 077279 Si’őfabanua showed that only 4 of 21 students (19%) achieved the school mastery criterion of 70, with a class average of 60. This study aimed to describe the implementation of an animated video-based flipped classroom and determine its improvement in students’ conceptual understanding of fractions. The study employed Classroom Action Research based on the Kemmis and McTaggart model and was conducted in two cycles. Each cycle consisted of planning, action, observation, and reflection. The participants were 21 third-grade students, consisting of 10 boys and 11 girls. Data were collected through conceptual understanding tests, teacher and student activity observations, student response questionnaires, and documentation. The data were analyzed descriptively using mean scores and learning mastery percentages. The results showed that the average score increased from 60 in the pre-cycle to 68 in Cycle I and 76 in Cycle II. Learning mastery increased from 19% in the pre-cycle to 57% in Cycle I and 86% in Cycle II. Teacher activity increased from 61% to 88%, while student activity increased from 69% to 82%. Student responses in Cycle II reached 86%, categorized as very positive. Therefore, the implementation of an animated video-based flipped classroom improved students’ conceptual understanding of fractions and encouraged more active participation in learning. ABSTRAK Pemahaman konsep pecahan pada siswa kelas III sekolah dasar masih menjadi permasalahan karena materi bersifat abstrak dan pembelajaran yang berpusat pada guru belum memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk mempelajari materi secara mandiri dan aktif. Kondisi awal di kelas III SD Negeri 077279 Si’őfabanua menunjukkan bahwa hanya 4 dari 21 siswa (19%) yang mencapai KKM 70 dengan nilai rata-rata kelas 60. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan flipped classroom berbasis video animasi dan mengetahui peningkatan pemahaman konsep materi pecahan siswa. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 21 siswa yang terdiri atas 10 laki-laki dan 11 perempuan. Data dikumpulkan melalui tes pemahaman konsep, observasi aktivitas guru dan siswa, angket respons siswa, serta dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif melalui rata-rata dan persentase ketuntasan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata meningkat dari 60 pada pra-siklus menjadi 68 pada Siklus I dan 76 pada Siklus II. Ketuntasan belajar meningkat dari 19% pada pra-siklus menjadi 57% pada Siklus I dan 86% pada Siklus II. Aktivitas guru meningkat dari 61% menjadi 88%, sedangkan aktivitas siswa meningkat dari 69% menjadi 82%. Respons siswa pada Siklus II mencapai 86% dengan kategori sangat positif. Dengan demikian, penerapan flipped classroom berbasis video animasi dapat meningkatkan pemahaman konsep materi pecahan sekaligus mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

متن کامل دسترسی آزاد

PERAN GURU DALAM MEMBANGUN KARAKTER SOSIAL SISWA SD DI ERA SOCIETY 5.0

Tri Shandra Abridinata Wibowo; Ringga Dwi Arianto TEACHING Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4, pp. 3661-3669 https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.16483

چکیده

ABSTRACT Dynamic shifts in the Society 5.0 era demand moral resilience in students starting from the primary school level, making educators the central pillar in transforming social values. This study deeply explores how the cultivation of religious, independent, and responsible character traits is implemented at SD Negeri 01 Margo Rejo, while mapping the various influencing factors. Utilizing a descriptive qualitative approach, data were gathered through semi-structured interviews, direct observations of daily activities, and document analysis involving the school principal, the fifth-grade teacher, and four students. Interactive data analysis and technical triangulation confirmed that ethical development is executed through a combination of spiritual routines, disciplinary guidance, and role modeling. Throughout this process, the teacher seamlessly integrates six core roles as an instructor, counselor, motivator, demonstrator, facilitator, and evaluator while equipping students with 21st-century 4C skills (critical thinking, creativity, communication, collaboration). Although character building is supported by strong teacher modeling and adequate school facilities, limited parental engagement and unmonitored digital device usage remain notable hurdles. These findings emphasize the necessity of strengthening collective synergy among schools, families, and communities to establish a solid foundation for children's character development. ABSTRAK Dinamika perubahan di era society 5.0 menuntut ketahanan moral peserta didik sejak jenjang sekolah dasar, sehingga keberadaan figur pendidik menjadi tumpuan utama dalam mentransformasikan nilai-nilai sosial. Riset ini mengurai secara mendalam bagaimana praktik pembentukan karakter religius, mandiri, dan tanggung jawab dijalankan di SD Negeri 01 Margo Rejo, sekaligus memetakan berbagai faktor yang memengaruhinya. Lewat pendekatan kualitatif deskriptif, informasi digali secara intensif dari kepala sekolah, guru kelas V, serta empat peserta didik melalui wawancara semi terstruktur, pengamatan aktivitas harian, dan telaah dokumen pendukung. Analisis data interaktif serta uji triangulasi teknik mengonfirmasi bahwa penanaman etika dilakukan melalui kombinasi pembiasaan ritus spiritual, pengarahan disiplin, dan pemberian contoh konkrit. Dalam proses tersebut, guru secara terpadu mengintegrasikan enam peran mendasar sebagai pengajar, pembimbing, motivator, demonstrator, fasilitator, hingga evaluator seraya membekali siswa dengan kecakapan 4C (critical thinking, creativity, communication, collaboration). Meskipun efektivitas pembinaan ini disokong oleh keteladanan pendidik serta sarana sekolah yang memadai, keterbatasan kepedulian sebagian orang tua dan penetrasi teknologi digital tanpa pengawasan ketat masih menjadi tantangan nyata. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya penguatan sinergi kolektif antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat demi membangun benteng karakter anak yang tangguh.

متن کامل دسترسی آزاد

ANALISIS PENERAPAN MODEL INQUIRY BASED LEARNING PADA KELAS V DALAM PEMBELAJARAN IPAS MATERI BUMI BERUBAH DI SD NEGERI 078011 TETEHOSI

Berta Swit Lady Zebua; Eka Septianti Laoli; Fatiani Lase; Indah Wijaya Lase TEACHING Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4, pp. 3670-3682 https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.15633

چکیده

This study was motivated by science and social studies (IPAS) learning that remained relatively teacher-centered, with limited student participation and suboptimal conceptual understanding of the Changing Earth topic. The study aimed to analyze the implementation of the Inquiry-Based Learning (IBL) model, identify the challenges encountered, and describe the teacher’s efforts to address those challenges in Grade V at SD Negeri 078011 Tetehosi. A qualitative approach with a case study design was employed. The participants consisted of one Grade V teacher as the key informant and six students as supporting informants. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model through data collection, reduction, display, and conclusion drawing. Data trustworthiness was established through source and technique triangulation. The findings show that IBL was implemented through six stages: orientation, problem formulation, hypothesis formulation, data collection, hypothesis testing, and conclusion drawing. The learning activities encouraged students to observe, ask questions, discuss, investigate, compare evidence with initial assumptions, and present conclusions. The main challenges included low confidence, differences in learning abilities, communication barriers, limited learning media, and limited instructional time. The teacher addressed these challenges by using audio-visual media and simple simulations, heterogeneous grouping, individual support, motivation, positive reinforcement, and a safe learning environment. Overall, IBL provided a more active and meaningful learning experience, although its implementation still required adaptive instructional support. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajaran IPAS yang masih cenderung berpusat pada guru, rendahnya keaktifan sebagian murid, serta belum optimalnya pemahaman konsep pada materi Bumi Berubah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model Inquiry Based Learning (IBL), mengidentifikasi kendala yang dihadapi, dan mendeskripsikan upaya guru dalam mengatasi kendala tersebut pada kelas V SD Negeri 078011 Tetehosi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan terdiri atas satu guru kelas V sebagai informan kunci dan enam murid sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IBL diterapkan melalui enam tahap, yaitu orientasi, perumusan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Pembelajaran mendorong murid mengamati, bertanya, berdiskusi, melakukan penyelidikan, membandingkan data dengan dugaan awal, dan mempresentasikan kesimpulan. Kendala utama meliputi rendahnya kepercayaan diri, perbedaan kemampuan belajar, hambatan komunikasi, keterbatasan media, dan waktu pembelajaran. Guru mengatasinya melalui penggunaan media audiovisual dan simulasi sederhana, kelompok heterogen, pendekatan personal, motivasi, penghargaan, dan suasana belajar yang aman. Temuan menunjukkan bahwa IBL dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif dan bermakna, meskipun pelaksanaannya masih memerlukan dukungan yang adaptif.

متن کامل دسترسی آزاد

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA PEMBELAJARAN IPAS DI KELAS IV SD NEGERI 35 PALEMBANG

Devi Febrianti; Rury Rizhardi; Ida Suryani TEACHING Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4, pp. 3683-3696 https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.13028

چکیده

The implementation of the Merdeka Curriculum in Natural and Social Sciences (IPAS) is important for promoting flexible, contextual, and student-centered learning. However, its implementation still faces challenges in planning, conducting, and evaluating learning according to students’ needs. This study aims to describe the implementation of the Merdeka Curriculum in IPAS learning in Grade IV at SD Negeri 35 Palembang, focusing on planning, implementation, and evaluation. This study employed a descriptive qualitative approach with a case study strategy. Data were collected through observations, interviews, and documentation involving the principal, the Grade IV teacher, and six students. Data trustworthiness was established through source and technique triangulation, while data were analyzed using the Miles and Huberman model, comprising data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the curriculum has been implemented relatively well. Planning involved the preparation of learning outcomes, learning objectives, learning objective sequences, and teaching modules. Classroom activities incorporated inquiry, group discussions, projects, and contextual learning media. Evaluation included diagnostic, formative, and summative assessments. Nevertheless, limited facilities and differences in students’ learning abilities remained challenges. This study concludes that the Merdeka Curriculum supports active, student-oriented IPAS learning, although continued teacher development and adequate learning facilities are necessary to strengthen its implementation. ABSTRAK Implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) penting untuk mewujudkan pembelajaran yang fleksibel, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Namun, penerapannya masih menghadapi tantangan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran IPAS di kelas IV SD Negeri 35 Palembang, meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru kelas IV, serta enam siswa. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui pengumpulan, reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka telah berjalan cukup baik. Perencanaan dilakukan melalui penyusunan capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, dan modul ajar. Pelaksanaan melibatkan pembelajaran inkuiri, diskusi, proyek, serta media kontekstual. Evaluasi dilakukan melalui asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Kendala berupa keterbatasan sarana dan perbedaan kemampuan siswa masih ditemukan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka mendukung pembelajaran IPAS yang aktif dan berorientasi pada kebutuhan siswa, tetapi memerlukan penguatan kompetensi guru dan dukungan sarana.

متن کامل دسترسی آزاد

PENGARUH METODE SURVEY, QUESTION, READ, RECITE, REVIEW (SQ3R) BERBANTUAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KELAS V MIN 1 BANDAR LAMPUNG

Suningsih Nur Putri; Wan Jamaluddin; Yuli Yanti TEACHING Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4, pp. 3697-3707 https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.16630

چکیده

Critical thinking is an important skill to be developed from elementary education. This study examined the effect of the Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) method assisted by audiovisual media on the critical-thinking ability of fifth-grade students at MIN 1 Bandar Lampung in the topic of Cultural Diversity in Indonesia. A quantitative quasi-experimental approach using a Nonequivalent Control Group Design was employed. The sample consisted of 64 students: 32 students in class VA as the experimental group and 32 students in class VB as the control group. Data were collected through critical-thinking tests administered before and after instruction. Analyses included descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, Levene’s test for homogeneity, a paired-samples t-test, and Welch’s t-test. The experimental group’s mean score increased from 38.52 at pretest to 72.42 at posttest, while the control group’s mean increased from 39.61 to 42.11. Welch’s t-test indicated a statistically significant posttest difference, t(60.13) = 14.942, p < .001, with a mean difference of 30.31 points. The findings indicate that students receiving SQ3R instruction supported by audiovisual media achieved higher critical-thinking scores than the control group. The results support the study hypothesis, while the quasi-experimental design and study context should be considered when interpreting the findings. ABSTRAK Berpikir kritis merupakan kemamuan yang penting untuk dikembangkan sejak pendidikan dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) berbantuan media audio visual terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas V MIN 1 Bandar Lampung pada materi Keberagaman Budaya di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel terdiri atas 64 peserta didik, yaitu 32 peserta didik kelas VA sebagai kelompok eksperimen dan 32 peserta didik kelas VB sebagai kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan berpikir kritis sebelum dan sesudah pembelajaran. Analisis meliputi statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, uji homogenitas Levene, uji t berpasangan, dan uji t Welch. Rata-rata pretest kelas eksperimen adalah 38,52 dan meningkat menjadi 72,42 pada posttest, sedangkan kelas kontrol meningkat dari 39,61 menjadi 42,11. Uji t Welch pada nilai posttest menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, t(60,13) = 14,942; p < 0,001, dengan selisih rata-rata 30,31 poin. Hasil ini menunjukkan bahwa kelompok yang memperoleh pembelajaran SQ3R berbantuan media audio visual memiliki nilai kemampuan berpikir kritis lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Temuan mendukung hipotesis penelitian, dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan desain quasi experiment dan konteks sampel penelitian.

متن کامل دسترسی آزاد

JOYFUL LEARNING BERBANTUAN MEDIA GAME-BASED LEARNING WORDWALL DAN MINAT BELAJAR IPAS PESERTA DIDIK KELAS V: STUDI KUASI-EKSPERIMEN

Nanik Astiti; Chairul Amriyah; Anton Tri Hasnanto TEACHING Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026, Vol. 6, Issue 4, pp. 3708-3717 https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.16654

چکیده

Low learning interest in Natural and Social Sciences (IPAS) remains a concern in elementary schools, including SD Negeri 1 Jatimulyo, South Lampung, where a preliminary survey classified 47 of 77 fifth-grade students (61.0%) as having low interest. This study examined differences in IPAS learning interest between students taught with a joyful learning strategy supported by the game-based learning platform Wordwall and students taught with direct instruction using textbooks and worksheets. This quantitative quasi-experiment used a nonequivalent control group design with all fifth-grade students (saturated sampling; class VA as the experimental group, n = 39, and class VB as the control group, n = 38) across six meetings on ecosystems. Learning interest was measured with a questionnaire of 10 valid items (Cronbach's α = 0.814) and analysed with an independent samples t-test. The mean post-questionnaire score was higher in the experimental class (34.84) than in the control class (26.41), and the difference was statistically significant (t = −13.308, df = 75, p < .001). However, the experimental class also began with a higher mean pretest score (30.42 versus 23.15), so the result should be interpreted with caution. The strategy may serve as an alternative for IPAS instruction, and further studies that control for initial interest are needed. ABSTRAK Minat belajar IPAS peserta didik sekolah dasar masih menjadi persoalan, termasuk di SD Negeri 1 Jatimulyo, Lampung Selatan. tempat survei awal menunjukkan 47 dari 77 peserta didik kelas V (61,0%) berminat belajar rendah. Penelitian ini bertujuan menguji perbedaan minat belajar IPAS antara peserta didik yang belajar dengan strategi joyful learning berbantuan media game-based learning Wordwall dan peserta didik yang belajar dengan direct instruction berbantuan buku dan LKPD. Penelitian kuantitatif ini menggunakan kuasi-eksperimen nonequivalent control group design pada seluruh peserta didik kelas V (sampling jenuh; kelas VA sebagai kelas eksperimen, n = 39, dan kelas VB sebagai kelas kontrol, n = 38) dengan materi ekosistem selama enam pertemuan. Minat belajar diukur dengan angket 10 butir valid (α = 0,814) dan dianalisis dengan uji-t sampel independen. Rerata skor akhir kelas eksperimen (34,84) lebih tinggi daripada kelas kontrol (26,41), dan perbedaan itu signifikan secara statistik (t = −13,308; db = 75; p < 0,001). Namun, kelas eksperimen juga memulai dengan rerata skor awal yang lebih tinggi (30,42 berbanding 23,15), sehingga hasil perlu ditafsirkan secara hati-hati. Strategi ini dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran IPAS, dan penelitian lanjutan dengan pengendalian skor awal diperlukan.

متن کامل دسترسی آزاد